Fakta
itu disodorkan Raja Teluk Patipi XVI yang bernama kecil H Ahmad Iba,
Sabtu (19/4). Dari ruang pribadinya – rumahnya berdinding papan di sudut
kota Fakfak, Papua Barat – dia mengeluarkan sebuah buntalan putih
besar. Isinya: delapan manuskrip kuno berhuruf Arab.
Lima
manuskrip berbentuk kitab dengan berbagai ukuran. Yang terbesar
berukuran sekitar 50 X 40 cm, berupa mushaf Alquran tulisan tangan di
atas kulit kayu yang dirangkai menjadi seperti sebuah kitab di zaman
sekarang. Empat lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan
kitab hadis, ilmu tauhid, dan kumpulan doa. Ada “tanda tangan” dalam
kitab itu, berupa gambar tapak tangan dengan jari terbuka.
Sedang
tiga kitab berikutnya, ini dia: dimasukkan ke dalam buluh bambu dan
ditulis di atas daun koba-koba, pohon asli Papua yang kini mulai punah.
Sekilas, mirip manuskrip daun lontar yang banyak dijumpai di berbagai
wilayah Indonesia Timur.
Lima
manuskrip pertama diyakini masuk ke Papua tahun 1214-an, berdasar
cerita turun-temurun. Kitab-kitab itu dibawa oleh Syekh Iskandarsyah
dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh yang datang menyertai rombongan
ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk lewat Mes, ibukota
Kerajaan Teluk Patipi saat itu.
Kenapa
yakin dengan tahun itu? “Di Mes di masa lalu pernah ditemukan gambar
tapak tangan yang detilnya mirip dengan gambar yang sama di manuskrip
Alquran kuno berangka tahun sama,” ujar Raja Teluk Patipi XVI. Tapak
tangan yang sama juga dijumpai di Teluk Etna (Kaimana) dan Merauke.
Ia
mendapat cerita dari kakek buyutnya, lagi-lagi cerita turun-temurun,
yang menyebut sebuah tsunami besar pernah menyapu bersih Mes – itu pula
yang membuat ibu kota kerajaan itu dipindahkan ke Teluk Patipi. Dalam
musibah itu, seluruh harta benda habis, “Termasuk kitab-kitab ajaran alif lam lam ha (maksudnya ejaan Allah, ajaran Islam adalah memerintahkan manusia menyembah Allah, red),” ujarnya.
Cerita
keberadaan benda-benda itu di Fakfak sekarang ini tak kalah
“misterius”. Adalah Burhanudin, keturunan Sultan Iskandar Muda di Aceh,
yang mengabarkan tentang adanya benda-benda ini. Dalam mimpinya,
leluhurnya mendatangi dan meminta dia untuk mengembalikan benda-benda
itu ke Papua, tepatnya kepada anak keturunan Raja Kris-Kris, raja
pertama yang menganut Islam di Papua dan kemudian menjadi imam untuk
wilayah itu.
Kontak
pun dibuat. Jakarta disepakati sebagai tempat bertemu. Tanggal 17 Juli
2004, atau enam bulan sebelum musibah tsunami Aceh, mereka bertemu.
Fadzlan Garamatan, dai asal Papua, menjadi wakil keluarga Raja Teluk
Patipi.
Maka,
dua keturunan raja itupun seperti menemukan rangkaian //puzzle// yang
selama ini mereka cari untuk melengkapi sejarah yang hilang. Burhanudin
menyatakan leluhurnya menyelamatkan kitab itu dari tsunami besar dan
membawanya menyeberang ke Pulau Ternate. Siapa nyana, anak keturunannya
pula yang menyelamatkan benda bersejarah itu dari musibah tsunami Aceh.
“Bila benda itu masih di sana, pasti sudah habis terbawa tsunami,” ujar
Fadzlan.
Kapan
persisnya Islam masuk ke Papua memang tak pernah terekam dengan jelas.
Pemerintah Kabupaten Fakfak pernah mengadakan beberapa kali seminar
membahas tentang hal ini. Petunjuk hanya mengarah pada bahwa pada abad
XV Islam sudah ada di Fakfak, namun kapan tepatnya dienullah itu menerangi warga Papua, tak ada catatan pasti.
Saksi
bisu sejarah itu adalah Masjid Patimburak di Distrik Kokas, Fakfak.
Masjid ini dibangun oleh Raja Wertuer I bernama kecil Semempe. Saat itu,
tahun 1870, Islam dan Kristen sudah menjadi dua agama yang hidup
berdampingan di Papua. Ketika dua agama ini akhirnya masuk ke
wilayahnya, Wertuer sang raja tak ingin rakyatnya terbelah
kepercayaannya.
Maka
ia membuat sayembara: misionaris Kristen dan imam Muslim ditantang
untuk membuat masjid dan gereja. Masjid didirikan di Patumburak, gereja
didirikan di Bahirkendik. Bila salah satu di antara keduanya bisa
menyelesaikan bangunannya dalam waktu yang ditentukan, maka seluruh
rakyat Wertuer akan memeluk agama itu.
“Masjid
lah yang berdiri pertama kali,” ujar juru kunci masjid itu, Ahmad Kuda.
Maka raja dan seluruh rakyatnya pun memeluk Islam. Bahkan sang raja
kemudian menjadi imam juga, dengan pakaian kebesarannya berupa jubah,
sorban, dan tanda pangkat di bahunya.
Arsitektur
Masjid Patimburak sendiri tergolong unik. Dari kejauhan, masjid ini
terlihat seperti gereja. Kubahnya mirip gereja-gereja di Eropa masa
lampau. Namun ada empat tiang penyangganya di tengah masjid, menyerupai
struktur bangunan Jawa. Interior dalamnya pun hampir sama dengan
masjid-masjid di Pulau Jawa yang didirikan oleh para wali.
Masjid
itu kini masih berdiri megah di pinggir teluk Kokas, setengah jam
perjalanan dengan perahu bermotor dari dermaga Kokas. Lubang bekas
peluru sisa-sisa serbuan pasukan Belanda dibiarkan utuh.
Masjid
itu masih difungsikan sebagai tempat ibadah 36 kepala keluarga dengan
147 jiwa yang tinggal di sekitarnya. “Dulu di sini ramai, tapi satu-satu
mereka pergi,” ujar Daud Iba, sekretaris kampung (desa) Patimburak.
Saksi sejarah itu makin tua dan kesepian.mr-dialogjum'atrepublika.( siwi tri puji )
0 komentar:
Posting Komentar