Sejarah yang Tak Tercatat

Sabtu, 24 Maret 2012



Fakta itu disodorkan Raja Teluk Patipi XVI yang bernama kecil H Ahmad Iba, Sabtu (19/4). Dari ruang pribadinya – rumahnya berdinding papan di sudut kota Fakfak, Papua Barat – dia mengeluarkan sebuah buntalan putih besar. Isinya: delapan manuskrip kuno berhuruf Arab. 
Lima manuskrip berbentuk kitab dengan berbagai ukuran. Yang terbesar berukuran sekitar 50 X 40 cm, berupa mushaf Alquran tulisan tangan di atas kulit kayu yang dirangkai menjadi seperti sebuah kitab di zaman sekarang. Empat lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadis, ilmu tauhid, dan kumpulan doa. Ada “tanda tangan” dalam kitab itu, berupa gambar tapak tangan dengan jari terbuka. 
Sedang tiga kitab berikutnya, ini dia: dimasukkan ke dalam buluh bambu dan ditulis di atas daun koba-koba, pohon asli Papua yang kini mulai punah. Sekilas, mirip manuskrip daun lontar yang banyak dijumpai di berbagai wilayah Indonesia Timur. 
Lima manuskrip pertama diyakini masuk ke Papua tahun 1214-an, berdasar cerita turun-temurun. Kitab-kitab itu dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh yang datang menyertai rombongan ekspedisi kerajaannya ke wilayah timur. Mereka masuk lewat Mes, ibukota Kerajaan Teluk Patipi saat itu. 
Kenapa yakin dengan tahun itu? “Di Mes di masa lalu pernah ditemukan gambar tapak tangan yang detilnya mirip dengan gambar yang sama di manuskrip Alquran kuno berangka tahun sama,” ujar Raja Teluk Patipi XVI. Tapak tangan yang sama juga dijumpai di Teluk Etna (Kaimana) dan Merauke. 
Ia mendapat cerita dari kakek buyutnya, lagi-lagi cerita turun-temurun, yang menyebut sebuah tsunami besar pernah menyapu bersih Mes – itu pula yang membuat ibu kota kerajaan itu dipindahkan ke Teluk Patipi. Dalam musibah itu, seluruh harta benda habis, “Termasuk kitab-kitab ajaran alif lam lam ha (maksudnya ejaan Allah, ajaran Islam adalah memerintahkan manusia menyembah Allah, red),” ujarnya.
Go to fullsize imageGo to fullsize imageGo to fullsize image
Cerita keberadaan benda-benda itu di Fakfak sekarang ini tak kalah “misterius”. Adalah Burhanudin, keturunan Sultan Iskandar Muda di Aceh, yang mengabarkan tentang adanya benda-benda ini. Dalam mimpinya, leluhurnya mendatangi dan meminta dia untuk mengembalikan benda-benda itu ke Papua, tepatnya kepada anak keturunan Raja Kris-Kris, raja pertama yang menganut Islam di Papua dan kemudian menjadi imam untuk wilayah itu. 
Kontak pun dibuat. Jakarta disepakati sebagai tempat bertemu. Tanggal 17 Juli 2004, atau enam bulan sebelum musibah tsunami Aceh, mereka bertemu. Fadzlan Garamatan, dai asal Papua, menjadi wakil keluarga Raja Teluk Patipi. 
Maka, dua keturunan raja itupun seperti menemukan rangkaian //puzzle// yang selama ini mereka cari untuk melengkapi sejarah yang hilang. Burhanudin menyatakan leluhurnya menyelamatkan kitab itu dari tsunami besar dan membawanya menyeberang ke Pulau Ternate. Siapa nyana, anak keturunannya pula yang menyelamatkan benda bersejarah itu dari musibah tsunami Aceh. “Bila benda itu masih di sana, pasti sudah habis terbawa tsunami,” ujar Fadzlan. 
Kapan persisnya Islam masuk ke Papua memang tak pernah terekam dengan jelas. Pemerintah Kabupaten Fakfak pernah mengadakan beberapa kali seminar membahas tentang hal ini. Petunjuk hanya mengarah pada bahwa pada abad XV Islam sudah ada di Fakfak, namun kapan tepatnya dienullah itu menerangi warga Papua, tak ada catatan pasti. 
Saksi bisu sejarah itu adalah Masjid Patimburak di Distrik Kokas, Fakfak. Masjid ini dibangun oleh Raja Wertuer I bernama kecil Semempe. Saat itu, tahun 1870, Islam dan Kristen sudah menjadi dua agama yang hidup berdampingan di Papua. Ketika dua agama ini akhirnya masuk ke wilayahnya, Wertuer sang raja tak ingin rakyatnya terbelah kepercayaannya. 
Maka ia membuat sayembara: misionaris Kristen dan imam Muslim ditantang untuk membuat masjid dan gereja. Masjid didirikan di Patumburak, gereja didirikan di Bahirkendik. Bila salah satu di antara keduanya bisa menyelesaikan bangunannya dalam waktu yang ditentukan, maka seluruh rakyat Wertuer akan memeluk agama itu. 
“Masjid lah yang berdiri pertama kali,” ujar juru kunci masjid itu, Ahmad Kuda. Maka raja dan seluruh rakyatnya pun memeluk Islam. Bahkan sang raja kemudian menjadi imam juga, dengan pakaian kebesarannya berupa jubah, sorban, dan tanda pangkat di bahunya. 
Arsitektur Masjid Patimburak sendiri tergolong unik. Dari kejauhan, masjid ini terlihat seperti gereja. Kubahnya mirip gereja-gereja di Eropa masa lampau. Namun ada empat tiang penyangganya di tengah masjid, menyerupai struktur bangunan Jawa. Interior dalamnya pun hampir sama dengan masjid-masjid di Pulau Jawa yang didirikan oleh para wali. 
Masjid itu kini masih berdiri megah di pinggir teluk Kokas, setengah jam perjalanan dengan perahu bermotor dari dermaga Kokas. Lubang bekas peluru sisa-sisa serbuan pasukan Belanda dibiarkan utuh. 
Masjid itu masih difungsikan sebagai tempat ibadah 36 kepala keluarga dengan 147 jiwa yang tinggal di sekitarnya. “Dulu di sini ramai, tapi satu-satu mereka pergi,” ujar Daud Iba, sekretaris kampung (desa) Patimburak. Saksi sejarah itu makin tua dan kesepian.mr-dialogjum'atrepublika.( siwi tri puji )

0 komentar:

Posting Komentar